ICARE BEKALI PETANI WONOREJO DENGAN STRATEGI BUDIDAYA JAGUNG ADAPTIF PERUBAHAN IKLIM
Pasuruan, 28 Juli 2026 - Integrated Corporation of Agricultural Resources Empowerment (ICARE) merupakan program Kementerian Pertanian yang didukung oleh Bank Dunia untuk memperkuat pengelolaan kawasan dan pengembangan rantai nilai komoditas pertanian secara berkelanjutan dan inklusif. Sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas petani, BRMP Jawa Timur menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Budidaya Jagung Cerdas Iklim di Gedung KDMP Desa Sambisirah, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan, yang diikuti oleh 250 petani jagung.
Kegiatan dibuka oleh Mufida, S.P., selaku Koordinator Penyuluh Pertanian BPP Wonorejo, yang mengajak seluruh peserta memanfaatkan bimbingan teknis untuk meningkatkan pengetahuan, produksi, dan produktivitas jagung. Selanjutnya, Ketua PIU ICARE Ratih Sandrakirana, S.P., M.Sc. memperkenalkan Program ICARE yang telah berjalan di Jawa Timur sejak tahun 2023, sekaligus menyampaikan bahwa koperasi yang telah dibentuk diharapkan mampu mendukung penyediaan sarana produksi pertanian bagi petani. Ratih juga mendorong peserta memanfaatkan kesempatan berdiskusi dengan narasumber untuk menyelesaikan berbagai permasalahan budidaya yang dihadapi di lapangan.
Bimbingan teknis menghadirkan dua narasumber, yaitu Ardiansyah, S.ST. yang menyampaikan materi Budidaya Jagung Cerdas Iklim untuk Peningkatan Produktivitas, serta Riza Ulil Fitria yang membawakan materi mengenai pengenalan dan pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) pada tanaman jagung.
Dalam pemaparannya, Ardiansyah menjelaskan bahwa perubahan iklim dan fenomena El Nino menuntut petani menerapkan budidaya jagung yang lebih adaptif. Upaya tersebut dilakukan melalui pemilihan varietas tahan kekeringan, penggunaan pupuk organik untuk memperbaiki struktur tanah, penerapan sistem tanam Zig-zag guna meningkatkan populasi tanaman dan efisiensi penerimaan cahaya, serta pemupukan berimbang sesuai fase pertumbuhan tanaman. Selain itu, peserta juga dibekali teknik pengairan, pengendalian gulma, hingga pengelolaan pupuk organik sebagai langkah meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi dalam jangka panjang.
Pada sesi berikutnya, Riza Ulil Fitria menjelaskan pentingnya deteksi dini terhadap Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), khususnya ulat grayak Fall Armyworm FAW), penyakit bulai, lalat bibit, ulat tanah, hingga hama tikus yang menjadi penyebab utama kehilangan hasil pada tanaman jagung. Peserta memperoleh pemahaman mengenai siklus hidup hama, gejala serangan, teknik monitoring, serta strategi pengendalian melalui penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), meliputi sanitasi lahan, rotasi tanaman, pemanfaatan agens hayati, hingga penggunaan pestisida sesuai prinsip 6 Tepat agar pengendalian lebih efektif dan ramah lingkungan.