TINGKATKAN KAPASITAS PETANI PASURUAN MELALUI BIMTEK BUDIDAYA JAGUNG CERDAS IKLIM
Pasuruan, 22 Juli 2026 - Integrated Corporation of Agricultural Resources Empowerment (ICARE) merupakan program Kementerian Pertanian yang didukung oleh Bank Dunia untuk memperkuat pengelolaan kawasan dan pengembangan rantai nilai komoditas pertanian secara berkelanjutan dan inklusif. Salah satu upaya yang dilakukan dalam mendukung peningkatan kapasitas petani adalah melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Budidaya Jagung Cerdas Iklim yang dilaksanakan di Gedung Ponpes Al-Ikhlas Pekoren, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan.
Kegiatan yang diikuti oleh 250 petani jagung ini dimoderatori oleh Indra Bagus Rahardjo, S.ST., M.Sc serta menghadirkan tiga narasumber, yaitu Ririn Khuswati, S.P., M.P., Kabid Tanaman Pangan Hortikultura DKP3 Kabupaten Pasuruan, yang menyampaikan materi Budidaya Jagung Cerdas Iklim; Ali Ari Widodo, S.P., M.P. yang memaparkan optimalisasi produktivitas jagung melalui penerapan pola tanam Zig-zag; serta Riza Ulil Fitria, S.P. yang membawakan materi mengenai pengenalan dan pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) pada tanaman jagung.
Dalam pemaparannya, Ririn Khuswati menjelaskan bahwa budidaya jagung cerdas iklim dimulai dengan penggunaan benih unggul, pengolahan lahan yang baik, pengaturan jarak tanam, pemupukan berimbang, serta pengairan yang memadai pada fase-fase kritis pertumbuhan tanaman. Selain meningkatkan produktivitas, penanganan pascapanen yang tepat dan diversifikasi produk olahan jagung juga dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah komoditas.
Pada sesi berikutnya, Ali Ari Widodo, S.P., M.P. menjelaskan bahwa penggunaan benih bermutu dengan daya tumbuh di atas 95 persen menjadi salah satu kunci keberhasilan budidaya jagung. Ia juga memperkenalkan pola tanam Zig-zag sebagai inovasi yang mampu meningkatkan pemanfaatan ruang, distribusi cahaya matahari, dan populasi tanaman sehingga berpotensi meningkatkan produktivitas jagung. Selain itu, pemupukan berimbang, pengairan sesuai fase pertumbuhan, serta panen pada waktu yang tepat menjadi faktor penting dalam memperoleh hasil panen yang optimal.
Materi selanjutnya disampaikan oleh Riza Ulil Fitria, S.P. mengenai pengenalan dan pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) pada tanaman jagung. Ia menjelaskan bahwa hama utama yang perlu diwaspadai antara lain ulat grayak Fall Armyworm (FAW), lalat bibit, ulat tanah, penggerek tongkol, hingga tikus, sedangkan penyakit yang sering menyerang meliputi bulai, hawar daun, karat daun, busuk batang, busuk tongkol, dan gosong bengkak.
Dalam pengendaliannya, petani dianjurkan menerapkan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) melalui monitoring rutin, penggunaan varietas tahan, sanitasi lahan, pengendalian biologis, serta penggunaan pestisida sesuai prinsip 6 Tepat, yaitu tepat jenis, sasaran, waktu, cara, dosis, dan mutu. Pendekatan ini diharapkan mampu menekan serangan OPT sekaligus menjaga produktivitas tanaman secara berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, BRMP Jawa Timur bersama Program ICARE berharap petani mampu menerapkan teknologi budidaya jagung yang adaptif terhadap perubahan iklim, meningkatkan keterampilan dalam pengelolaan usaha tani, serta mampu mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan secara tepat sehingga produktivitas dan kualitas hasil panen jagung dapat terus ditingkatkan.