ICARE TINGKATKAN KAPASITAS PETANI PASURUAN MELALUI BIMTEK BUDIDAYA JAGUNG CERDAS IKLIM
ICARE TINGKATKAN KAPASITAS PETANI PASURUAN MELALUI BIMTEK BUDIDAYA JAGUNG CERDAS IKLIM
Pasuruan, 21 Juli 2036 - Integrated Corporation of Agricultural Resources Empowerment (ICARE) merupakan program Kementerian Pertanian yang didukung oleh Bank Dunia untuk memperkuat pengelolaan kawasan dan pengembangan rantai nilai komoditas pertanian secara berkelanjutan dan inklusif. Salah satu upaya yang dilakukan dalam mendukung peningkatan kapasitas petani adalah melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Budidaya Jagung Cerdas Iklim yang dilaksanakan di Gedung Serba Guna Anisah Foundation, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan.
Kegiatan yang diikuti oleh 250 petani jagung ini dimoderatori oleh Galuh Agung Sadewa, S.Tr.P. serta menghadirkan dua narasumber, yaitu Ratih Sandrakirana, S.P., M.Sc., Ketua PIU ICARE, yang menyampaikan materi Budidaya Jagung Cerdas Iklim (Climate Smart Agriculture/CSA) dan sistem tanam Zig-zag Super, serta Athena Ilda Novanti yang membawakan materi mengenai antisipasi hama dan penyakit tanaman jagung menghadapi kemarau panjang akibat fenomena El Nino 2026.
Dalam pemaparannya, Ratih Sandrakirana, S.P., M.Sc., menjelaskan bahwa penerapan Climate Smart Agriculture (CSA) menjadi salah satu strategi penting untuk menjaga produktivitas jagung di tengah kondisi iklim yang semakin tidak menentu. Melalui pendekatan ini, petani didorong menerapkan teknologi budidaya yang mampu meningkatkan hasil panen sekaligus menjaga keberlanjutan usaha tani.
Keberhasilan budidaya jagung diawali dengan penggunaan benih unggul bersertifikat yang memiliki daya tumbuh di atas 95 persen dan dilakukan seed treatment untuk menekan serangan penyakit sejak awal pertumbuhan. Petani juga direkomendasikan menggunakan varietas tahan kekeringan seperti Bima 19-URI dan Bima 20-URI, yang memiliki ketahanan terhadap cekaman kekeringan serta beberapa penyakit utama, seperti bulai, karat daun, dan hawar daun.
Selain penggunaan varietas unggul, peserta juga diperkenalkan dengan sistem tanam Zig-zag Super yang mampu meningkatkan populasi tanaman hingga sekitar 153 persen dibandingkan sistem tanam konvensional. Teknologi ini diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan lahan tanpa meningkatkan persaingan antartanaman secara signifikan. Materi juga membahas pemanfaatan biochar dan biokompos untuk meningkatkan kesuburan tanah, serta penerapan konservasi air melalui pengelolaan irigasi dan teknologi panen hujan sebagai langkah adaptasi menghadapi musim kemarau.
Pada sesi berikutnya, Athena Ilda Novanti, S.P. memaparkan strategi antisipasi peningkatan serangan hama dan penyakit tanaman jagung akibat fenomena El Nino 2026. Ia menjelaskan bahwa kondisi suhu yang lebih tinggi dan curah hujan yang menurun berpotensi meningkatkan perkembangan hama seperti ulat grayak Fall Armyworm (FAW), penggerek batang, kutu daun, thrips, hingga tikus, serta penyakit bulai, karat daun, hawar daun, busuk tongkol, dan gosong bengkak.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, petani dianjurkan menerapkan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) melalui sanitasi lahan, penggunaan varietas tahan, pemanfaatan agens hayati seperti Beauveria bassiana, Bacillus thuringiensis (Bt), dan Trichoderma sp., serta melakukan aplikasi pestisida hanya ketika tingkat serangan telah melewati ambang ekonomi.
Melalui kegiatan ini, BRMP Jawa Timur bersama Program ICARE berharap petani mampu menerapkan teknologi budidaya jagung yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim, meningkatkan kemampuan dalam mengidentifikasi serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) sejak dini, serta menghasilkan usaha tani jagung yang lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan.